Jakata – Warga pesisir Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, di kejutkan oleh kemunculan video viral di media sosial yang memperlihatkan ribuan ikan mati mengambang di perairan. Salah satu unggahan yang menarik perhatian publik berasal dari akun instagram @infodemakraya. Fenomena ini terjadi pada kamis malam tanggal 27 November 2025 di Desa Bedono, khususnya di Dukuh Tonosasi, wilayah yang bukan tambak produktif melainkanlahan untuk persiapan kolam retensi.
Warga melaporkan bahwa dalam tiga hari terkahir sebelum viral, banyak ikan laut tiba tiba mati secara massal. Menanggapi laporan tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Demak segera turun ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan. Petugas mengambil sempel air, lumpur, dan ikan untuk di analisis di laboratorium. Hingga saat ini, pemeriksaan masih berlangsung.
Dugaan Penyebab: Pembanunan Tol Semarang-Demak
Sekretaris DLH Demak, Sudarwanto, menduga kematian massal ikan tersebut terkait dengan pembangunan tol baru yang tersambung di wilayah tersebut. Menurutnya, struktur tol berpotensi menciptakan cekungan baru yang menghambat sirkulasi alami antara air laut dan payau. Perubahan sirkulasi ini bisa mengubah salinitas dan suhu air secar drastis ikan tidak dapat beradaptasi, yang berpotensi menyebabkan kematian massal. Namun, DLH menekankan gugaan ini masih bersifat sementara dan menunggu hasil laboratorium.
Baca Juga: Viral Penumpang Dorong Satpam, Nyaris Tertabrak KRL
Penjelasan dari Dinal Kelautan dan Perikanan
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah (DKP Jateng) menambahkan perspektif berbeda. Dari pemeriksaan awal, tidak di temukan indikasi pencemaran bahan kimia atau logam berat di perairan. Kepala DKP Jateng, Endi Faiz Effendi, menyebut bahwa penyebab kematian massal kemungkinan besar terkait rendahnya kadar oksigen terlaur dalam air, yang membuat ikan sulit bernapas terutama saat terjadi perubahan salinitas secara tiba tiba. Ia menekankan bahwa area pesisir Desa Bedono memang kurang layak di jadikan tambak atau lokasi perikanan produktif karena kerentanan terhadap kondisi lingkungan yang buruk.
Dampak Sosial dan Lingkungan
Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran warga pesisir, terutama terkait kerugian ekonomi bagi mereka yang menggantungkan hidup pada hasil laut. Selain dampak ekonomi, kematian massal ikan juga mencuatkan isu lingkungan, seperti perubahan ekosistem, penurunan keanekaragaman hayai, dan potensi dampak jangka panjang terhadap mata pencaharian masyarakat. Fenomena ini juga memicu perdebatan mengenai dampak pembangunan infrastruktur terhadap lingkungan pesisir dan laut.
Pelajaran Penting untuk Pembangunan Berkelanjutan
Kasus di Sayung menjadi pengingat bahwa perencanaan dan analisi dampak lingkungan harus di lakukan sebelum pembangunan besar, terutama di kawasan sensitif seperti pesisir. Infrastruktur seperti jalan tol memang membawa manfaat ekonomi dan konektivitas. Tetapi jika tidak memperhatikan ekosistem, bisa menimbulkan dampak lingkungan yang serius. Pemeriksaan laboratorium yang sedang berlangsung di harapkan dapat memberikan data ilmiah terkait penyebab kematian ikan, baik akibat perubahan fisik kimia air, kekurangan oksigen, atau faktor lainnya. Keputusan dan kebijakan mitigasi sebaiknya di dasarkan pada data yang valid.
Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi pemerintah dan masyarakat bahwa pembangunan dan pelestarian lingkungan harus berjalan beriringan. Tanpa keseimbangan, dampak negatif bagi alam dan menusia bisa sangat besar. Dengan memantau perkembangan hasil uji DLH dan DKP, publik dapat memperoleh pemahaman lebih jelas mengenai penyebab fenomena ini sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pembangunan yang berkelanjutan.