Detik-detik Dewi Astutik Buron Narkoba Rp 5 T Ditangkap!
Pagi yang dramatis bagi penegakan hukum internasional terukir pada senin, 1 Desember 2025. Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama tim gabungan termasuk Badan Intelijen Strategi (BAIS) TNI, kepolisian kamboja, serta dukungan diplomatik dari kedutaan besar republik indonesia di Phnom penh berhasil membekuk buron internasional kasus narkoba, Dewi Astutik alias “Mami”.
Penangkapan terjadi di area lobi sebuah hotel di kota Sihanoukville, Kamboja, tepat pukul 13.39 waktu setempat. Dewi terdeteksi berada dalam sebuah mobil (Toyota Prius putih) bersama seorang pria. Tanpa perlawanan, petugas langsung menangkap keduanya.
Jejak Panjang Seorang Buron: Dari DPO hingga Interpol
Dewi Astutik bukan nama baru di radar penegak hukum — ia sudah lama berstatus buron internasional, masuk daftar pencarian orang (DPO) dari BNN sejak 3 Oktober 2024 dan bahkan termasuk “red notice” dari interpol.
Sejak 2011, Dewi di laporkan sudah bekerja di luar negeri sebagai pekerja migran dan sempat tinggal di banyak negara asia, termasuk taiwan, hongkong, dan terakhir di kamboja, sebelum akhirnya terungkap sebagai otak di balik sindikat narkoba internasional.
Menurut pengakuan pihak berwenang, identitas yang di gunakan Dewi sempat di sangka palsu, di duga milik saudara kandungnya.
Baca Juga: Viral Beras Bantuan Dijatuhkan dari Helikopter Taput
“Sembilan Nol” — 2 Ton Sabu senilai Rp 5 Triliun yang Gagal Masuk Indonesia
Menurut BNN, Dewi Astutik di juluki sebagai “aktor utama” (mastermind) di balik penyelundupan 2 ton sabu ke indonesia, dengan nilai pasar sekitar Rp 5 triliun.
Barang haram seberat itu tergolong sangat besar, otoritas menyebut penangkapan ini secara tidak langsung telah menyelamatkan sekitar 8 juta jiwa dari potensi penyalahgunaan narkoba di indonesia.
Dwi tidak hanya aktif sebagai penyelundup, ia juga berperan sebagai perekrut jaringan narkoba lintas benua, khususnya untuk distribusi ke negara negara di Asia dan Afrika.
Sinergi Internasional: Dari Intelijen hingga Deportasi
Penangkapan Dewi menunjukkan betapa erat dan pentingnya kerja sama antarlembaga dan antarnegara dalam memerangi kejahatan narkoba tingkat internasional. Operasi ini melibatkan BNN Indonesia, BAIS TNI, kepolisian Kamboja, diplomasi leat KBRI Phnom Penh, serta dukungan dari interpol dan instansi keimigrasian dan bea-cukai.
Setelah penangkapan, Dewi langsung di pindahkan ke Phnom Penh untuk verifikasi identitas, lalu di pulangkan ke indonesia melalui bandara Soekarno-Hatta pada selasa sore, 2 Desember 2025.
Pihak berwenang memastikan proses pemulangan berjalan sesuai regulasi, dengan dukungan dari instansi terkait seperti bea-cukai dan kemenlu.
Signifikansi Penangkapan dan Pesan untuk Publik
Penangkapan Dewi Astutik menjadi sinyal tegas bahwa jaringan narkoba internasional. Meskipun bergerak lintas batas, tidak kebal dari hukum. Keberhasilan ini mengingatkan bahwa kerja sama lintas negara sangat penting. Serta bahwa buron dan pelaku kejahatam narkoba besar dpat di tindak di mana pun mereka bersembunyi.
Di sisi lain, masyarakat perlu terus waspada terhadap bahaya narkoba. Volume besar seperti dua ton sabu bisa berujung pada penyalahgunaan masif. Kehancuran keluarga, dan kerusakan sosial dalam skala luas.
Dengan keberhasilan ini, di harapkan penegak hukum dapat terus memperkuat jaringan kerja sama internasional. Mengawasi gerak gerik jaringan kriminal, serta mempercepat proses hukum agar efek jera benar benar terasa.